GAMES THE ARCHITECT - Membangun Kota, Memahami Dampak karya Mahasiswa Universitas Tiga Serangkai

05 Aug 2026 Artikel Tenno Young Dalana (Mahasiswa)

Image

Nama Mahasiswa :
Tenno Young Dalana - 22500062
Satria Adji Subagyo - 22530022
Damar Nabil Buqori - 22500032
Prodi : Informatika
Dosen Pembimbing : Paulus Harsadi, S.Kom, M.Kom.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41 (5).jpeg 285.59 KB


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, game telah berevolusi dari sekadar media hiburan menjadi salah satu instrumen komunikasi yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat luas. Salah satu bentuk nyata dari perkembangan ini adalah game edukasi — game yang dirancang tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk mengajarkan pemahaman tentang isu-isu nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Dari sekian banyak game edukasi yang dikembangkan di Indonesia, "The Architect" menonjol sebagai satu karya yang berhasil menggabungkan pendekatan visual interaktif dengan isu-isu tata kelola kota secara komprehensif.

"The Architect" adalah game bergenre simulasi manajemen kota yang dikembangkan menggunakan mesin game Godot 4. Berbeda dengan game simulasi kota pada umumnya yang hanya fokus pada aspek ekonomi atau estetika, The Architect mengambil pendekatan yang lebih holistik. Pemain tidak sekadar membangun gedung dan jalan, melainkan juga harus mempertimbangkan aspek-aspek penting kehidupan kota seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, pangan, kemiskinan, kepuasan penduduk, hingga dinamika antar faksi sosial. Dengan kata lain, game ini mensimulasikan kompleksitas pengelolaan kota sesungguhnya, namun dibungkus dalam format yang menarik dan mudah dipahami oleh siapa saja.

Latar belakang diciptakannya game ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa menghadapi tantangan besar dalam tata kelola kota — mulai dari urbanisasi yang tidak terkendali, ketimpangan ekonomi, polusi, hingga krisis pangan dan pendidikan. Melalui The Architect, pemain diajak untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pengelola kota yang harus mengambil keputusan-keputusan sulit dengan dampak yang beragam bagi warganya. Ini menjadikan The Architect bukan hanya sekadar game, tetapi juga sebuah medium komunikasi visual yang membantu masyarakat — terutama generasi muda — memahami isu-isu pembangunan kota secara lebih mendalam dan kontekstual.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41 (2).jpeg 433.41 KB


The Architect memiliki beberapa fungsi utama yang menjadikannya lebih dari sekadar permainan biasa. Fungsi pertama dan yang paling utama adalah sebagai media edukasi interaktif. Melalui gameplay-nya, pemain belajar memahami bagaimana berbagai sektor dalam kota saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, membangun banyak pabrik memang meningkatkan pendapatan kota, namun di saat yang bersamaan meningkatkan polusi yang berdampak pada kesehatan penduduk. Demikian pula, kebijakan subsidi industri yang menguntungkan kaum kapitalis ternyata berdampak negatif pada kaum pekerja. Pemain diperhadapkan pada trade-off nyata yang mengajarkan pemikiran sistemik.

Fungsi kedua adalah sebagai simulasi kebijakan publik. Dalam game ini, terdapat tujuh kebijakan utama yang bisa diambil pemain: Subsidi Industri, Pajak Karbon, Insentif Usaha Kecil, Wajib Belajar 12 Tahun, Rumah Rakyat, Keluarga Berencana, dan Jaminan Kesehatan. Setiap kebijakan memiliki syarat, biaya, durasi, dampak positif, dan dampak negatif. Pemain harus memahami konteks kota mereka sebelum mengambil keputusan. Kebijakan yang tepat di satu kondisi bisa jadi bencana di kondisi lain. Pendekatan ini mengajarkan pemain tentang pemikiran strategis dan konsekuensial dalam pengelolaan publik.

Fungsi ketiga adalah sebagai alat komunikasi visual yang efektif. Setiap keputusan yang diambil pemain divisualisasikan melalui perubahan statistik kota yang ditampilkan secara real-time dalam bentuk bar, ikon, dan animasi floating text. Pemain dapat langsung melihat bagaimana keputusan mereka berdampak pada kota. Pendekatan visual ini membuat kompleksitas pengelolaan kota menjadi lebih mudah dipahami oleh pemain dari berbagai latar belakang, sejalan dengan prinsip komunikasi visual yang menekankan pada keterbacaan dan kejelasan informasi.

Cara bermain The Architect dirancang untuk memberikan pengalaman yang intuitif namun tetap menantang. Pemain memulai permainan dengan kondisi kota awal yang sudah ditentukan: sejumlah kecil penduduk terpelajar, penduduk tak terdidik, dan sedikit pabrik. Tugas pemain adalah mengelola kota ini agar berkembang secara berimbang di lima aspek utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, pangan, dan kepuasan penduduk.

Setiap putaran permainan terdiri dari empat fase waktu — Pagi, Siang, Sore, dan Malam — yang berputar secara dinamis. Siang hari memberikan pencahayaan terang yang cocok untuk aktivitas pembangunan, sementara malam hari menciptakan atmosfer gelap yang mengubah tampilan kota secara visual. Pemain juga akan menghadapi tiga jenis musim — Musim Cerah, Musim Hujan, dan Musim Kemarau — yang masing-masing membawa tantangan berbeda. Di Musim Hujan, hujan lebat akan turun dengan partikel visual, sementara di Musim Kemarau, debu dan kekeringan menjadi ancaman. Sistem cuaca ini menambahkan lapisan strategi tambahan karena pemain harus mempersiapkan kota untuk menghadapi kondisi cuaca yang berbeda-beda.

Pemain berinteraksi dengan kota melalui sistem pembangunan. Terdapat 19 jenis bangunan yang bisa dibangun, dibagi menjadi beberapa kategori: bangunan perumahan (Rumah Penduduk), bangunan industri (Pabrik, Tambang), bangunan pangan (Kebun, Sawah, Peternakan), bangunan pendidikan (Sekolah, Universitas), bangunan kesehatan (Rumah Sakit), bangunan ekonomi (Pasar, Bank, Toko), bangunan pemerintahan (Kantor Pemerintah, Balai Kota), bangunan energi (Panel Surya, Turbin Angin), dan bangunan utilitas (Taman, Tempat Sampah). Setiap bangunan memiliki biaya, pendapatan per 30 detik, efek stat, dan slot tumpang tindih yang berbeda. Pemain harus menempatkan bangunan secara strategis karena beberapa bangunan saling mendukung (misalnya Kebun meningkatkan pendapatan Pasar) sementara yang lain saling bertentangan (misalnya Pabrik menurunkan kualitas lingkungan).

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41 (4).jpeg 465.92 KB


Salah satu fitur yang membuat The Architect unik adalah sistem krisis. Pemain akan menghadapi berbagai krisis yang muncul secara dinamis berdasarkan kondisi kota. Ada empat jenis krisis utama yang bisa terjadi: Wabah (terjadi ketika kesehatan rendah dan populasi padat), Krisis Ekonomi (terjadi ketika pendapatan sangat rendah), Demonstrasi massa (terjadi ketika kepuasan penduduk rendah), dan Krisis Pangan (terjadi ketika ketersediaan pangan rendah). Setiap krisis memiliki mekanisme unik — misalnya, Wabah menyebabkan populasi tak terdidik berkurang karena sakit, sementara Demonstrasi dapat berubah menjadi Kerusuhan yang lebih berbahaya jika tidak segera ditangani. Pemain harus bereaksi cepat dengan mengambil kebijakan yang tepat atau membangun fasilitas yang diperlukan untuk mengatasi krisis.

Di luar krisis, pemain juga akan menghadapi berbagai peristiwa acak yang menambah elemen kejutan dalam permainan. Peristiwa-peristiwa ini bisa positif seperti Bonus Pajak atau Kunjungan Dewan Ahli, maupun negatif seperti Kebakaran Hutan atau Perusakan Akibat Hujan Ekstrem. Sistem Dynamic Difficulty Adjustment (DDA) secara otomatis menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan performa pemain — jika pemain sangat sukses, tantangan akan meningkat; jika pemain kesulitan, permainan akan sedikit mempermudah. Ini memastikan bahwa permainan selalu menantang tanpa menjadi frustrasi.

Selain kota utama, pemain juga dapat mengakses Peta Dunia yang menampilkan kota-kota lain di seluruh dunia. Kota-kota ini diwakili oleh NPC (Non-Player Character) dengan nama-nama kota seperti Jakarta, Mumbai, São Paulo, dan Lagos. Setiap kota memiliki statistik unik dan pemain dapat berinteraksi dengan mereka untuk mengetahui informasi tentang kondisi dunia, menandatangani perjanjian perdagangan, atau mengirim bantuan. Sistem ini menambahkan dimensi geopolitik yang membuat pemain menyadari bahwa kota mereka bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem global.

The Architect dilengkapi dengan berbagai fitur canggih yang membedakannya dari game simulasi kota lainnya. Fitur pertama adalah Sistem DDA (Dynamic Difficulty Adjustment). Sistem ini bekerja seperti "otak" permainan yang terus memantau statistik kota dan performa pemain. Jika pemain berhasil menjaga kota tetap stabil, sistem akan menambah t tantangan baru seperti krisis yang lebih sering atau kebutuhan anggaran yang meningkat. Sebaliknya, jika pemain dalam kondisi sulit, sistem akan memberikan sedikit bantuan. Ini menciptakan pengalaman bermain yang adaptif dan personal.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41.jpeg 416.68 KB


Fitur kedua adalah Sistem Kebijakan (Policy System). Seperti yang sudah disebutkan, terdapat tujuh kebijakan utama yang bisa diaktifkan pemain. Setiap kebijakan memiliki mekanisme unik: Subsidi Industri meningkatkan pendapatan pabrik sebesar 40% tetapi melipatgandakan polusi; Pajak Karbon mengenakan pajak pada bangunan berpolusi dan memberikan pendapatan tambahan; Insentif Usaha Kecil mendukung pasar dan kebun; Wajib Belajar 12 Tahun melipatgandakan output pendidikan; Rumah Rakyat menyediakan perumahan bersubsidi; Keluarga Berencana mengendalikan pertumbuhan populasi; dan Jaminan Kesehatan memperbaiki statistik kesehatan. Setiap kebijakan memiliki durasi terbatas dan cooldown sebelum bisa diaktifkan kembali, memaksa pemain untuk berpikir secara strategis.

Fitur ketiga adalah Sistem NPC dan Faksi. Kota dihuni oleh NPC warga biasa dan NPC tokoh penting (Dewan Ahli/Advisor). Warga biasa bergerak secara bebas di kota dan memiliki kebutuhan dasar seperti tempat tinggal. Dewan Ahli — terdiri dari Penasihat Pendidikan (Bu Guru), Kesehatan (Pak Doktor), dan Lingkungan (Pak Hutan) — memberikan nasihat strategis kepada pemain berdasarkan statistik kota saat ini. Jika kesehatan kota sedang rendah, Pak Doktor akan muncul dan menyarankan kebijakan yang tepat. Selain itu, terdapat tiga faksi sosial — Taipan (kaum kaya), Pekerja (kaum buruh), dan Hukum (aparat) — yang masing-masing memiliki tingkat loyalitas yang dipengaruhi oleh kebijakan pemain. Menyeimbangkan kepentingan ketiga faksi ini menjadi salah satu tantangan tersulit dalam permainan.

Fitur keempat adalah Sistem Monitor Kota. Pemain dapat mengakses layar monitor yang menampilkan ringkasan komprehensif tentang kondisi kota: jumlah bangunan, populasi per kategori, statistik utama, kota dunia, faksi, event yang sedang aktif, dan riwayat kebijakan. Fitur ini sangat membantu pemain dalam mengambil keputusan strategis karena menyajikan data secara visual dan terstruktur.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41 (3).jpeg 376.54 KB


Fitur kelima adalah Sistem Guidebook. Untuk membantu pemain baru memahami mekanisme permainan, The Architect menyediakan panduan interaktif yang menjelaskan cara bermain, cara membangun, cara menggunakan kebijakan, dan cara menghadapi krisis. Guidebook ini dirancang dengan gaya bahasa yang sederhana dan dilengkapi dengan ilustrasi, sehingga pemain dapat langsung terjun ke permainan tanpa merasa bingung.

Fitur keenam adalah Sistem Save/Load. Pemain dapat menyimpan progres permainan kapan saja dan melanjutkannya nanti. Sistem penyimpanan menggunakan enkripsi untuk memastikan data tetap aman. Fitur ini sangat penting mengingat permainan ini dirancang untuk dimainkan dalam sesi yang panjang, dan pemain mungkin perlu berhenti sejenak untuk melanjutkan nanti.

Fitur ketujuh adalah Sistem Localisasi. The Architect mendukung dua bahasa: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pemain dapat beralih bahasa kapan saja melalui menu pengaturan. Semua teks dalam permainan — dari nama bangunan hingga deskripsi kebijakan — diterjemahkan ke kedua bahasa. Fitur ini memperluas jangkauan game dan membuatnya dapat diakses oleh pemain dari berbagai latar belakang bahasa.

The Architect memiliki signifikansi yang besar dalam konteks ilmu komunikasi dan pendidikan Indonesia. Pertama, game ini membuktikan bahwa game dapat menjadi media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kompleks tentang tata kelola kota kepada masyarakat luas. Dalam ilmu komunikasi, dikenal konsep "visualisasi data" — yaitu menyajikan informasi kompleks dalam bentuk visual agar lebih mudah dipahami. The Architect melakukan hal ini dengan cara yang sangat elegan: setiap keputusan pemain divisualisasikan melalui perubahan bar statistik, ikon, dan animasi, sehingga pemain dapat langsung melihat dampak dari tindakan mereka.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41 (1).jpeg 407.56 KB


Kedua, game ini mengajarkan pemikiran sistemik — kemampuan untuk memahami bahwa semua hal dalam kota saling terhubung. Ketika pemain membangun pabrik, mereka harus memikirkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan faksi pekerja. Ketika mereka mengambil kebijakan subsidi, mereka harus mempertimbangkan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Pemikiran sistemik seperti ini sangat dibutuhkan dalam dunia nyata, terutama bagi para pengambil keputusan publik. The Architect melatih pemain untuk berpikir seperti seorang pemimpin kota yang bijaksana.

Ketiga, game ini menyentuh isu-isu sosial yang relevan dengan konteks Indonesia. Isu kemiskinan, ketimpangan, polusi, krisis pangan, dan pendidikan adalah masalah-masalah nyata yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia. Melalui The Architect, pemain dapat merasakan kompleksitas masalah-masalah ini dan memahami bahwa solusi untuk satu masalah seringkali menciptakan masalah baru. Pemahaman ini sangat berharga dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya tata kelola kota yang baik dan berkelanjutan.

Keempat, game ini memanfaatkan teknologi game modern untuk tujuan edukasi. Dibangun menggunakan Godot 4 — mesin game open-source yang powerful — The Architect menunjukkan bahwa pengembang Indonesia mampu membuat game berkualitas tinggi yang tidak hanya hiburan tetapi juga bermakna. Dengan grafis 2D isometris yang menarik, sistem partikel cuaca yang realistis, dan mekanisme permainan yang dalam, game ini mampu bersaing dengan game-game simulasi kota dari pengembang internasional.

WhatsApp Image 2026-08-05 at 15.27.41.jpeg 416.68 KB


Secara keseluruhan, The Architect adalah contoh nyata bagaimana ilmu komunikasi dan teknologi game dapat bersinergi untuk menciptakan produk yang tidak hanya menghibur tetapi juga edukatif. Game ini mengajarkan pemain tentang kompleksitas pengelolaan kota, pentingnya kebijakan publik yang bijaksana, dan dampak dari setiap keputusan terhadap kehidupan masyarakat. Dengan memadukan elemen-elemen komunikasi visual, narasi interaktif, dan mekanisme permainan yang mendalam, The Architect berhasil menjadi sebuah medium komunikasi yang powerful untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan yang kompleks secara sederhana dan menarik.

Ke depannya, pengembangan game edukasi seperti The Architect perlu terus didukung dan dikembangkan. Kolaborasi antara pengembang game, ahli komunikasi, dan akademisi pendidikan sangat diperlukan untuk menghasilkan game-game yang tidak hanya berkualitas secara teknis tetapi juga pedagogis. The Architect telah membuktikan bahwa game bukan sekadar hiburan — game adalah sebuah bahasa komunikasi universal yang mampu menjangkau jutaan orang dan memberikan dampak nyata bagi pemahaman mereka tentang dunia di sekitar mereka.

Berikut HAKI untuk game tersebut:

SuratCiptaan_EC002025137640_page-0001.jpg 1.51 MB


SuratCiptaan_EC002025137640_page-0002.jpg 350.64 KB



Pusat Bantuan: CS Fakultas CS PMB
Logo

Perguruan tinggi berbasis kolaborasi industri dan Teaching Factory yang berkomitmen mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri serta meningkatkan indeks entrepreneurship di Indonesia.

Peta Lokasi


© Copyright 2026 - Fakultas Teknik | Tiga Serangkai University